Sektor Pertanian Garut Menjadi Salah Satu Daerah yang Merasakan Sentuhan Program IPDMIP dari Kementan

Kabar Garut – Sektor pertanian di Garut, Jawa Barat, menjadi salah satu daerah yang merasakan sentuhan program Integrated Participatory Development & Management of Irrigation Program (IPDMIP) dari Kementerian Pertanian (Kementan). Salah satu dampak positif yang  dirasakan para petani Garut adalah meningkatnya hasil pertanian sebesar 2,7 persen.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, IPDMIP bertujuan memaksimalkan produktivitas pertanian di daerah irigasi.

“Dengan IPDMIP, kita berharap ketahanan pangan dapat turut dijaga. Karena, IPDMIP bertujuan meningkatkan produktivitas pertanian di daerah irigasi. Tidak itu saja, IPDMIP juga bertujuan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani,” katanya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi meyakinkan jika sektor pertanian adalah yang mampu bertahan di tengah situasi apa pun. Bahkan, kata Dedi, sektor pertanian masih terus tumbuh meski dua kali perekomian nasional mengalami kontraksi.

“Kita sudah dua kali mengalami kontraksi di semua sektor. Pada kuartal I ke kuarta II ekonomi kita minus lima sekian persen. Juga pada kuartal II ke kuartal III minus lagi tiga sekian persen. Hal menggembiarakan bahwa kuartal pada kuartal I ke kuartal II sektor pertanian tumbuh 16,24 persen. Selanjutnya dari kuartal II ke kuartal III tumbuh 2,15 persen,” ujar Dedi saat melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Garut, pekan ini.

Saat berdialog dengan petani, kelompok tani (Poktan), gabungan kelompok tani (Gapoktan) dan penyuluh di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Kadungora itu ia melanjutkan, yang menjadi kata kunci meningkatnya pertumbuhan sektor pertanian adalah tetap semangatnya petani dan penyuluh turun menggarap sawah, ladang dan kebun mereka. Pandemi COVID-19 tak mampu membendung semangat petani dan penyuluh untuk terus berproduksi memenuhi kebutuhan pangan rakyat Indonesia.

“Selama masih ada kehidupan, selama itu pula pangan diperlukan, selama itu pula pertanian diperlukan, selama itu pula petani, penyuluh, KWT, Poktan, Gapoktan diperlukan. Selama masih ada kehidupan pertanian tidak boleh berhenti. Meski besok dunia kiamat, hari ini kita tetap tanam. Itu tekad kita,” kata Dedi menyemangati petani dan penyuluh.

Untuk itu, Dedi mengajak kepada petani untuk terus semangat turun ke sawah, ladang dan kebun untuk terus menggenjot produksi dan produktivitas.

“Kita perlihatkan kepada dunia petani tetap masih ada dan semangat turun ke sawah, ke kebun, ke ladang untuk menggenjot produksi. Semangat itu tidak boleh berkurang. Bayangkan kalau gara-gara COVID-19 semangat petani turun, produksi turun, kelaparan terjadi dii mana-mana. Itu kiamat syugro. Maka dari itu, kita genjot semangat ini untuk tetap produksi,” ujarnya.

Baca Juga :   Ketua Umum Jabar Bergerak Beri Rumah Tinggal Layak Huni kepada Warga Garut

Untuk mendukung sepenuhnya petani, Dedi menyebut selalu menjalin kerja sama dengan pemda setempat dalam hal ini Kabupaten Garut dan seluruh stakeholder terkait lainnya untuk menggenjot produksi.

“Kami bekerja sama dengan pemda dan seluruh stakeholder di Garut untuk bersama-sama menggenjot produksi. Kami ada Kostratani yang merupakan pusat gerakan kebangkitan pertanian di tingkat kecamatan. Tujuannya adalah untuk memberdayakan penyuluh dan petani,” kata Dedi.

Kepala Dinas Pertanian Garut, Beni Yoga Guna Santika menjelaskan, wilayahnya cukup banyak menerima manfaat peogram IPDMIP Kementan. Setidaknya ada 10 kecamatan di Kabupaten Garut yang mendapat program IPDMIP. Salah satu fokus program adalah pembinaan kelembagaan pertanian di wilayah penerima manfaat IPDMIP, khususnya terkait pengaturan air.

“Kita sudah banyak menerima manfaat dari kegiatan BPPSDMP. Fokus pembinaan kelembagaan pertanian di wilayah IPDMIP, terutama pengaturan air. Meski di tengah pandemi ternyata produksi meningkat. Peningkatan itu terjadi di wilayah-wilayah penerima manfaat IPDMIP. Irigasi teknis dengan bimbingan teknis, sehingga berkontribusi pada peningkatan produktivitas sebesar 2,7 persen,” kata Beni.

Di sisi lain, hal yang juga dilakukan pihaknya di Garut adalah persemaian benih padi. Selama 1,5 bulan sebelum panen dan masa tanam kedua, persemaian benih padi telah dilakukan. “Di Garut ini ada kelompok petani milenial yang sudah bergerak di industri pengolahan. Ada beberapa produk langsung saji. Artinya, ada peningkatan nilai tambah dari produksi gabah yang dirasakan kelompok tani,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Dedi Nursyamsi sempat meninjau secara langsung wilayah yang menerima manfaat peogram IPDMIP di Kecamatan Kadungora. Selain itu, Dedi juga meninjau BPP Wanaraja di Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kecamatan Wanaraja.

Hadir pada kesempatan itu Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Camat Kadungora, Kapolsek Kadungora, Danramil Kadungora, Kepala Desa Kadungora, penyuluh, pendamping IPDMIP, kelompok tani dan BPP penerima program perangkat IT.

Sumber : Republika.co.id

Editor : Kabar Garut

Bagikan :

Next Post

Di Balik Mengecilnya Ukuran Tempe di Garut Ada Amerika

Sen Jan 4 , 2021
Kabar Garut – Perajin tempe di Garut, Jawa Barat mulai mengeluhkan kenaikan harga beli kacang kedelai saat ini. Mereka meminta pemerintah segera melakukan Operasi Pasar (OP) untuk menstabilkan harga. Abdul Aziz (30), salah satu pengrajin tempe di kampung Ciawitali, Garut mengatakan, kenaikan harga beli kacang kedelai sudah berlangsung sejak tiga […]
error: Content is protected !!