25 Februari 2021

KABAR GARUT

Menyajikan Fakta dan Realita Seputar Garut

Pedagang Tahu dan Tempe di Garut Sempat Tak Jualan, Harga Kedelai Melambung

Kabar Garut – Sudah tiga hari terakhir di pasar-pasar tradisional yang ada di Kabupaten Garut tak ada yang berjualan tahu dan tempe. Hal ini menyusul harga kacang kedelai yang mengalami kenaikan sejak beberapa hari terakhir.

Asep (39), pedagang tahu di Pasar Limbangan, menyebutkan sudah tiga hari dirinya tak berjualan tahu di pasar. Hal ini dilakukan karena pabrik yang menjadi langganannya belanja tahu tak lagi memproduksi tahu sejak tiga hari terakhir.

“Pabrik tahu tempat biasa saya belanja sudah tiga hari tak produksi. Menurut pemilik pabrik, hal ini dikarenakan harga kacang kedelai yang menjadi bahan pokok pembuatan tahu sangat mahal,” ujar Asep, Senin 4 Januari 2021.

Kondisi seperti ini diakui Asep tentu saja membuatnya sangat kebingungan. Secara otomatis dirinya tak bisa berjualan karena tak ada barang yang akan dijualnya dan ini tentu sangat merugikan bagi dirinya.

Dikatakannya, dari informasi yang didengarnya, harga kacang kedelai mulai mengalami kenaikan signifikan menjelang Natal dan tahun baru. Pemilik pabrik tentu tak mau berspekulasi sehingga lebih memilih untuk berhenti produksi.

Ungkapan senada dilontarkan Irfan (34), salah seorang pedagang tahu asal Kecamatan Garut Kota. Diakuinya, selama bebberapa hari dirinya dan pedagang tahu/tempe lainnya sempat tak berjualan.

“Sempat tak jualan selama tiga hari sehingga tak ada penghasilan. Namun saat ini sudah kembali berjualan akan tetapi dengan mensiasati agar tak terlalu rugi,” kata Irfan.

Untuk menghdindari kerugian yang terlalau besar, tuturnya, dia dan pedagang tahu dan tempe lainnya terpaksa memperkecil ukuran. Hal ini dikarenakan untuk menaikan harga dirasa tidak memungkinkan mengingat akan banyak konsumen/pelanggan yang keberatan.

Baca Juga :   Bupati Garut, Rudy Gunawan Hadiri Pelantikan MUI Masa Khidmat 2021-2025

Menurutnya, tahu saat ini masih tetap dijualnya dengan harga Rp500 per butir. Namun dibandingkan dengan sebelumnya, ukuran tahu yang dijualnya tentu lebih kecil.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Garut, Nia Gania Karyana, membenarkan terjadinya kenaikan harga kacng kedelai sejak beberapa hari terakhir. Namun Nia membantah kalau hal itu telah menyebabkan terjadinya aksi mogok produksi serta penjualan tahu dan tempe.

“Benar telah terjadi kenaikan harga kacang kedelai sejak beberapa hari terakhir. Namun hal itu tak sampai membuat para produsen dan pedagang mogok,” ucap Gania.

Menurut Gania, para produsen tahu dan tempe di Garut terpaksa menyiasati kenaikan harga kacang kedelai dengan memperkecil ukuran tahu dan tempe. Hal ini dilakukan guna menghindari terjadinya kerugian akibat mahalnya harga kacang kedelai sebagai bahan pokok pembuatan tahu dan tempe.

Masih menurut Gania, dengan memperkecil ukuran, para produsen pun tak harus menaikan harga tahu dan tempe yang diproduksinya. Dengan demikian, selain bisa mencegah kerugian, mereka juga tak akan kehilangan pelanggan.

Lebih jauh diungkapkannya, dari survei yang dilakukan di lima pasar besar yang ada di Garut, harga kedelai mengalami kenaikan antara Rp400 hingga Rp500 per kilogramnya. Pihaknya tak bisa berbuat banyak soal kenaikan harga kedelai.

Sumber : Pikiran Rakyat

Editor : Kabar Garut

Bagikan :
error: Content is protected !!