1 Maret 2021

KABAR GARUT

Menyajikan Fakta dan Realita Seputar Garut

Lewati Jalan Talegong-Cisewu Sepeda Motor Empat Kali Digotong, Amblas dan Longsor

Kabar Garut – Arus lalu lintas di jalan provinsi antara Kecamatan Talegong dengan Cisewu, Kabupaten Garut, hingga Minggu (10/1/2021) masih lumpuh karena terdapat jalan amblas dan tertutup tanah longsor di tiga titik, serta satu titik jembatan ambruk.

Untuk jalan amblas terjadi di Kampung Imut, Desa Nyalindung, Kecamatan Cisewu, setinggi dua meter. Akibatnya, untuk kendaraan roda empat tidak bisa melewati. Sementara bagi sepeda motor yang memaksa ingin menyebrang harus digotong ramai-ramai menggunakan jasa warga setempat.

“Meski tidak meminta, tapi hampir semua penyebrang memberi imbalan kepada warga yang menggotong sepeda motor itu. Rata-rata Rp20 ribu untuk satu sepeda motor. Bagi saya, inisiatif warga itu sangat membantu,” ujar Undang, salah seorang warga yang sedang melakukan perjalanan dari Pangalengan menuju Cisewu.

Menurut dia, sebelum disebrangkan dengan cara digotong di jalan amblas Kampung Imut, sepeda motornya mengalami hal yang sama di tiga titik lokasi bencana. Titik pertama di Kampung Lolongokan, Kecamatan Talegong. Di sini kendaraan tidak bisa lewat karena badan jalan tertimbun tanah longsor yang terjadi pada Sabtu (9/1/2021).

“Hanya bagi sepeda motor yang memaksa ingin menyebrang, terpaksa harus digotong dengan bantuan warga sekitar,” jelas Undang yang dibenarkan oleh pengendara sepeda motor lainnya bernama Ade.

Baca Juga :   Ini Harapan Wakil Bupati Garut Kepada Insan Media, Ucapkan Selamat Hari Pers Nasional

Ditambahkan keduanya, setelah di lokasi tanah longsor Kampung Lolongokan, sepeda motor yang memaksa melakukan perjalanan antara Talegong-Cisewu harus juga digotong ketika menyebrang jembatan Citalegong di Desa Sukamulya, Kecamatan Talegong, karena sejak Sabtu (9/1/2020) jembatan ini ambruk setelah diguyur hujan deras.

“Titik ketiga yaitu di Kampung Salam, Desa Nyalindung, Kecamatan Cisewu. Di lokasi ini pun sepeda motor harus digotong karena menyebrang badan jalan yang tertimbun longsor. Bencana longsor yang terjadi di Kampung Salam bersamaan waktunya dengan bencana di Kampung Lolongokan, jembatan Citalegong, dan Kampung Imut,” kata Ade.

Ia menjelaskan, dengan adanya bencana di empat titik di jalur Talegong-Cisewu itu, perjalanan menjadi tambah capek karena harus mengotong sepeda motor sampai empat kali. Selain itu, pengeluaran biaya pun jadi bertambah. Jika di setiap titik bencana harus keluar Rp20 ribu, maka di empat titik itu mesti merongoh kocek sampai Rp80 ribu.

Sumber : gosipgarut.id

Editor : Kabar Garut

Bagikan :
error: Content is protected !!