Kesetiaan Penduduk Kampung Naga Menjaga Warisan Leluhur

kabargarut.com – Berada di pinggiran Sungai Ciwulan, di antara lembah subur di perbukitan Neglasari. Dari kejauhan, terlihat rumah beratap ijuk bersusun rapi. Udara dan hawa segar langsung menyelimuti saat pertama kali menginjak di Kampung Naga.

Keasriannya kampung ini masih lestari.Terbukti dari rumah yang mereka tinggali. Penduduk Kampung Naga mendirikan rumah yang sepenuhnya terbuat dari alam.

Badan rumah berasal dari anyaman bambu sedangkan bagian atap dari ijuk. Enggak kalah dari genteng, atap ijuk ini kabarnya bisa bertahan hingga 20 tahun.

Uniknya, semua rumah di kampung ini dibangun dengan ketinggian, warna dan bentuk yang seragam. Dinding rumah diberi warna menggunakan kapur putih dan atap dari ijuk berwarna kehitaman. Bukan tanpa alasan mengapa serupa, hal ini untuk menyimbolkan kesetaraan antar masyarakat di Kampung Naga. Kampung di Provinsi Jawa Barat ini damai dengan kesederhanaannya.

Penduduk kampung yang terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat ini bertahan hidup sebagai petani dan peternak. Enggak heran, kolam-kolam kecil terlihat di samping rumah-rumah mereka. Biasanya mereka membudidayakan ikan mas dan lele.

Meski dikelilingi hutan, perkampungan yang konon dihuni oleh leluhur suku asli Sunda ini tak lantas merasa kekurangan dan ketakutan. Justru, hutan yang yang dianggap terlarang oleh masyarakat sekitar ini sangat mereka jaga dan hormati. Konon di hutan seluas 1,5 hektare ini mereka yakini sebagai tempat para leluhurnya di semayamkan. Hutan tropis itu tumbuh rindang ragam tumbuhan dengan rentang usia ratusan tahun.

Baca Juga :   Sejarah Sebutan Garut 'Kota Intan', Dari Pujian Belanda Hingga Restu Soekarno

Jauh dari hingar bingar ibu Kota. Ada kearifan lokal yang masih terus dijaga. Salah satunya memilih tidak bersentuhan dengan teknologi dan listrik. Pemerintah sempat mengupayakan akses listrik namun mendapatkan penolakan.

Masyarakat Kampung Naga ingin menjaga keaslian budaya mereka tanpa terpengaruh oleh kemajuan teknologi dan informasi di era sekarang. Hal utama yang menjadi prioritas adalah hidup dengan melestarikan adat dari para leluhur.

Makna kesederhanaan sudah melekat dengan masyarakat kampung adat naga sebagai pedoman hidup. Memilih untuk hidup berdampingan dengan kesederhanaan adalah jalan mereka. Menurut warga Kampung Naga, manusia akan sadar bahwa dengan hidup secara beriringan bisa menghindarkan manusia dari berbuat kerusakan yang bisa merugikan.

Dulunya, masyarakat Kampung Naga sempat menutup diri dari kehidupan luar. Kini, mereka lebih terbuka dengan berbagai kondisi luar serta mulai menerima kunjungan dari wisatawan.

Untuk kamu yang butuh tempat untuk menyepi, nampaknya cocok untuk berkunjung di desa ini. Eksotisme wilayah, dengan ragam kekayaan adat budaya, menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap pengunjung yang datang. Kampung Naga pun menjadi salah satu keunikan yang dimiliki Indonesia.

Singgah ke Kampung Naga tidak ada tiket masuk alias gratis. Namun, pengunjung yang datang wajib lapor pada petugas keamanan yang berjaga. Nantinya di ujung kampung, terdapat buah tangan kerajinan penduduk Kampung Naga.

Kerajinan anyaman boboko, topi dan dudukuy galabang, tas dan aksesoris lainnya. Tak ada salahnya, membeli kerajinan karya penduduk sini.

Artikel ini sebelumnya tayang di :
https://www.merdeka.com/travel/kampung-naga-menjaga-warisan-
leluhur-tanpa-tersentuh-listrik.html

Bagikan :

Next Post

Beberapa Wonderkid Sepak Bola Indonesia Tumbuh di Lapangan Tak Berumput Ini

Sel Jun 1 , 2021
“Kaki Gunung Cikuray tak hanya memiliki keindahan alam saja,tetapi juga bakat-bakat dalam sepak bola.” kabargarut.com – Cikajang adalah nama sebuah kecamatan di kaki gunung Cikuray. Sekitar 25 km sebelah selatan dari pusat kabupaten Garut. Salah satu akses menuju Cikajang adalah dengan menggunakan minibus. Udara khas pegunungan dan hamparan kebun teh […]
error: Content is protected !!