Domba Tangkas Garut Seharga Rp375 Juta, Kisah Pasutri Pemilik Si Gehger

Kabar Garut – Bagi masyarakat Garut, Jawa Barat, memelihara domba tangkas atau yang biasa ikut laga tangkas adalah kebanggaan. Selain mempertahankan tradisi, investasi domba Garut adu juga memberikan keuntungan menggiurkan.

Tak percaya, lihat saja harga domba adu si Gehger yang berusia 3 tahun, sudah ditawar Rp375 juta, kemudian si Robin, yang berusia 4 tahun, dihargai Rp300 juta, setelah keduanya giliran menjuarai kontes tangkas domba tingkat nasional 2020 lalu.

“Dulu yang legendaris di sini ada yang namanya si Bagas yang ditawar hingga Rp500 juta,” ujar Iwa, salah seorang peternak domba tangkas Garut, Rabu (27/1/2021).

Ditemani Ernawati atau yang biasa dipanggil Erna Intan Dewata, sepasang suami-istri pemilik padepokan domba Garut “Intan Dewata Single Fighter (SF)” di Kampung Naringgul, Desa Rancabango, Kecamatan Tarogong Kaler, Garut ini, memang dikenal sebagai pemilik domba unggulan di Garut.

Mereka bangga memiliki sekaligus memelihara domba seharga ratusan juta tersebut. Mereka kerap menjadi perwakilan Garut dalam beberapa kejuaraan nasional lomba tangkas domba Garut.

“Di sini ada delapan ekor, beberapa di antaranya sudah ditawar di atas Rp100 juta,” kata dia.

Menurut haji Iwa, hobi memelihara dan beternak domba tangkas merupakan warisan dari orangtuanya secara turun temurun. “Biasanya saat laga atau ada waktu luang kita turun ke peternak mencari domba unggul,” kata dia.

Ia mencontohkan saat pertama kali menemukan si Robin, domba juara 2020 itu, sengaja dibeli seharga Rp85 juta dari sesama pecinta domba di wilayah Majalaya, Kabupaten Bandung, setahun sebelumnya.

Namun, setelah memenangi kontes tangkas domba Garut tingkat nasional di Cimahi tahun lalu, harganya langsung meroket tajam.

“Sudah ada yang nawar dengan uang cash (tunai) seharga Rp300 juta, tapi belum saya keluarkan,” kata dia.

Baca Juga :   7 Daerah Belum Terapkan Vaksinasi Secara Maksimal, Termasuk Garut

Erna Intan Dewata salah satu pemilik Padepokan Domba Garut Intan Dewata Single Fighter, tengah menunjukan deretan domba juara di kandangnya. (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)
Menurutnya, menjual domba Garut juara bukan perkara sulit, tetapi mencari pengganti sepandan itulah yang membuat Iwa dan Erna berpikir ulang untuk melepasnya.

“Kalau menjual gampang, tapi belum ada penggantinya yang sepadan,” ujarnya.

Saat ini, total ada 42 domba Garut unggulan di beberapa kandang milik padepokan Intan Dewata. Domba-domba itu terbiasa mengikuti lomba dengan ragam kelas.

“Alhamdulillah seluruh domba kami sudah merasakan juara dari mulai kelas A hingga kelas C,” ujar dia bangga.

Bahkan, empat di antaranya sudah ditawari harga ratusan juga karena aksi memukaunya di beberapa arena ketangkasan domba Garut. Sebut saja harga si Gehger Rp375 juta, kemudian si Robin Rp 300, dan si Ranggalawe Rp250 juta.

Erna Intan Dewata menambahkan, ada beberapa kelas tangkas yang biasa diikuti para pecinta domba tangkas Garut. Untuk kelas A memiliki bobot domba di atas 75 kilogram ke atas, kemudian kelas B memiliki berat badan 65,1 kilogram hingga 75,0 kilogram.

Sedangkan kelas C atau kelas paling kecil yang dipertandingkan, biasanya memiliki bobot badan maksimal 65 kilogram ke bawah. “Itu si Mutiara sudah ditawar Rp150 juta yang baru juara di kelas C (paling bawah),” ujarnya.

Domba Garut memang khas Indonesia, tumbuh dan berkembang di Kabupaten Garut. Domba jenis ini memiliki ciri berekor tebal, tanduk besar sebagai senjata utama, tampilan badan yang bersih, kekar dengan keempat kaki yang terlihat sehat dan kuat.

Sumber : www.liputan6.com

Editor : Kabar Garut

Bagikan :

Next Post

Siswa SD di Garut 'Hijrah' Jadi Pengamen Boneka, Dikarnakan Jenuh Belajar Daring

Jum Jan 29 , 2021
Kabar Garut – Gagalnya pelaksanaan belajar secara tatap muka bagi pelajar kota Intan Garut, Jawa Barat, yang sedianya digelar mulai awal tahun ini, menimbulkan persoalan baru selama pelaksanaan sekolah daring alias online di rumah. Para pelajar Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang jenuh dengan keadaan, akhirnya hijrah […]
error: Content is protected !!