Bekas Galian C Disulap Jadi Geowisata Gunung Guntur Garut

Kabar Garut – Bagi Anda yang alergi dengan pemandangan mengerikanan bekas galian C, tak ada salahnya mengunjungi kawasan geowisata blok Seureuh Jawa, Kecamatan Tarogong Kaler, kaki Gunung Guntur, Garut, Jawa Barat.

Di lahan seluas 9 hektare dari ratusan hektare lahan terdampak bekas galian C itu, kini mulai terlihat pesonanya usai disulap menjadi kawasan baru geowisata bagi masyarakat. Spot baru wisata pun kini sayang untuk dilewatkan.

Hamzah Fauzi Nur Amin atau yang biasa dipanggil Robet di kalanggan penikmat kopi kota Intan mengatakan, potensi geowisata bekas galian C Gunung Guntur memang memberikan sensasi liburan yang berbeda.

Selain latar ekstrem dengan bebatuan di dalam lubang besar nan terjal bekas galian C, pemandangan alam gunung Guntur dengan toping awannya yang indah, membuat siapapun betah berlibur di sana.

“Tinggal dikembangkan dengan penataan damn konsep wisata alam yang tepat, maka pengunjung bakal datang,” kata dia, Senin (4/1/2021).

Menurutnya, pengembangan geowisata Gunung Guntur bakal memberikan manfaat berganda bagi warga wisata Garut. Selain mengoptimalkan lahan tidur di bekas galian C, juga menjaga kelesatrian alam sekitar yang belum terjamah.

“Belum lagi soal keindahan gunung Guntur, sebagai ‘Bromonya,’ Jawa Barat,” ujar dia.

Dalam penilaiannya beberapa spot yang bisa dikembangkan di are geowisata Gunung Guntur yakni, jogging track yang menantang, area camping alam di bekas galian C, hingga olahraga ektrem lainnya.

Robet mencontohkan saat beberapa titik lahan warga di blok Seureuh Jawa disulap menjadi kawasan geowisata, pengunjung pun langsung jatuh hati.

“Bisa juga digunakan sebagai kajian ilmiah ilmu pengetahuan mengenai kelesatrian lingkungan,” ujarnya.

Tak ayal, dengan segudang potensinya, rencana pengembangan geowisata bekas galian C Gunung Guntur, bakal menjadi alternatif wisata berikutnya.

“Semakin berkembang wisatanya, maka aktifitas galian tambang diharapkan semakin berkurang,” kata dia berharap.

Beberapa barista cilik tengah melakukan cupping coffe di kaki gunung Guntur, Garut, Jawa Barat. (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)
Untuk menyuarakan potensi itu, komunitas kopi Garut sengaja menggelar kegiatan cupping kids di kawasan kaki Gunung Guntur. Cupping adalah metode atau teknik mengevaluasi karakteristik yang berbeda dari biji kopi tertentu.

Dengan melakukan cupping, kita dapat membandingkan karateristik biji kopi antara yang satu dengan yang lainnya. Dalam prakteknya mereka sengaja melibatkan komunitas dan anak-anak petani kopi Garut.

Dikdik Ahmadi, pengurus komunitas kopi Garut mengatakan potensi geowisata kaki gunung guntur memang menjanjikan, sehingga dibutuhkan sentuhan promosi semua pihak.

“Kita cari kawasan wisata yang tidak merusak alam, namun justru mengoptimalkan kawasan rusak menjadi lebih optimal,” kata dia.

Baca Juga :   Piknik ke Garut, 5 Oleh-oleh Ini Jangan Lupa Dibawa Pulang!

Dalam uji cupping tersebut, para barista pemula yang berusia muda tersebut, mulai menguji karakteristik setia kopi, sehingga ditemukan jenis kopi yang baik.

“Khusus kali ini kebetulan kopi yang digunakan arabika gunung Guntur, karena kebunnya dekat di sini,” ujarnya.

Namun meskupun demikian, diujikan puls beberapa kopi unggulan tanah air lainnya, sebut saja gayo dari Aceh, wilayah sumatera, kemudian kopi Sulawesi, Garut yang mewakili kopi Jawa Barat.

“Selain jenis arabikanya, faktor lain yang mempengaruhi yakni air tanah dan penyinaran matahari,” kata dia.

Saat proses cupping berlangsung, terlihat beberapa peserta mengalami kesulitan, selain berada di luar ruangan, terpaan angin gunung Guntur yang cukup kencang turut menyulitkan mereka.

“Kondisi ini sangat bagus untuk melatih indera penciuman para barista,” ujarnya.

Munir Safei (23), salah seorang relawan pendakian Gunung Guntur Garut menyatakan, geowisata di area bekas galian C gunung Guntur menyimpan potensi cukup besar.

Selain daerah bekas galian C yang cukup luas, panorama alam yang mendukung di kawasan konservasi gunung Guntur Garut, mampu menghinotis setiap pengunjung yang datang.

“Di Banding Bromo kami tidak terlalu jauh ketinggalan,” ujar dia bangga.

Menurutnya, bekas galian C kawasan gunung Guntur, memang layak menjadi alternatif area wisata alam baru di kabupaten Garut. “Jarak dari pusat kota pun sangat mendukung bagi pengunjung yang datang,” ujarnya.

Keberadaan puncak gunung Guntur setinggi 2249 mdpl yang menjadi benteng tanggung bagi alam Garut, menjadi primadona bagi setiap pengunjung yang datang. “Rata-rata waktu tempuh hingga ke pos satu hanya satu jam,” ujarnya.

Sementara dari pos satu hingga ke pos ketiga dari rangkaian puncak pendakian gunung Guntur, pengunjung hanya menghabiskan waktu kurang dari satu jam.

“Dibanding saat awal pandemi, kunjung saat ini mulai menunjukan ada peningkatan sekitar 30-40 persen,” kata dia.

Saat ini ada beberapa rute jalur pendakian gunung Guntur yang kerap dilalui pengunjung. Namun dari jumlah itu, hanya dua jalur yang termasuk resmi yakni melalui PLP Citiis dan Seureuh Jawa.

Sedangkan sisanya mulai pintu masuk Dano, Cisaat, Legok Pulus, Cikahuripan, hingga kini belum tercatat secara resmi sebagai pintu masuk pendakian.

“Sejak 2005 sebenarnya sudah mulai ramai dikunjungi, namun peningkatan signifikan tercatat sejak 2012 lalu,” kata dia.

Artikel ini dimuat juga pada www.liputan6.com dengan judul “Aduhai Indahnya, Bekas Galian C Disulap Jadi Geowisata Gunung Guntur Garut”

Editor : Kabar Garut

Bagikan :

Next Post

Sejuknya Air Terjun Cisarua Garut

Rab Feb 24 , 2021
Kabar Garut – Berada di kaki Gunung Cikuray, Garut, Jawa Barat, yang jauh dari kebisingan, kehadiran curug atau air terjun Cisarua di Blok Desa Sukamurni, Kecamatan Cilawu Garut, yang satu ini memberikan ketenangan. Memiliki curah debit air cukup besar dan jernih nyaris sepanjang tahun, kehadiran air terjun Cisarua memang bak […]
error: Content is protected !!