Beberapa Wonderkid Sepak Bola Indonesia Tumbuh di Lapangan Tak Berumput Ini

“Kaki Gunung Cikuray tak hanya memiliki keindahan alam saja,tetapi juga bakat-bakat dalam sepak bola.”

kabargarut.com – Cikajang adalah nama sebuah kecamatan di kaki gunung Cikuray. Sekitar 25 km sebelah selatan dari pusat kabupaten Garut. Salah satu akses menuju Cikajang adalah dengan menggunakan minibus.

Udara khas pegunungan dan hamparan kebun teh sejauh mata memandang di sepanjang perjalanan akan anda temukan jika berkunjung ke Cikajang. Rasanya Cikajang ini tidaklah kalah indahnya jika dibandingkan dengan kawasan Puncak Bogor.

Cikajang tidak hanya memiliki keindahan alam saja, tetapi juga bakat-bakat dalam sepak bola. Sudah sejak lama Cikajang menjadi salah satu daerah pemasok pemain untuk klub di tanah air mulai dari Persigar Garut, Persib Bandung, hingga tim nasional (timnas).

Seperti menjadi sebuah takdir bagi kecamatan Cikajang, kabupaten Garut, untuk dekat dengan sepak bola. Olahraga popoler ini sudah dimainkan di sana sejak zaman Belanda. Di kabupaten Garut, Cikajang seolah menjadi titik pusat dalam kemeriahan sepak bola. Adalah lapangan Ibrahim Adjie atau yang sekarang lebih populer disebut lapangan Cikajang yang telah berhasil menciptakan bintang-bintang sepak bola di Indonesia.

Nama tenar seperti Zaenal Arif dan Yandi Sofyan salah satu contoh pemain yang lahir dan besar di sana.

Di lapangan tak berumput itu, sepak bola tak hanya dimainkan untuk sekadar menghibur masyarakat, tetapi juga mencetak pemain top tanah air. Berbagai turnamen rutin digelar di lapangan ini, baik itu turnamen antardesa, antarkecamatan hingga kabupaten rutin digelar di lapangan Cikajang ini. Hal ini juga berbanding lurus dengan perkembangan Sekolah Sepak Bola (SSB) di sana.

Pada tahun 1996 ada Diklat Samba, di mana Zaenal Arief yang merupakan kakak dari Yandi Sofyan rutin berlatih, hingga akhirnya ia menjadi produk unggulan dari Diklat Samba yang sukses berkarir di dunia sepak bola. Diklat Samba dapat dikatakan sebagai pionir pembinaan sepak bola di Cikajang. Sayangnya, Diklat Samba ini hanya bertahan hingga tahun 1999, akan tetapi dari situ muncul beberapa SSB seperti SSB Tunas 2000 Cikajang dengan homebase lapangan Cikajang. SSB Tunas 2000 Cikajang kemudian pecah menjadi beberapa SSB lagi, sehingga lebih banyak lagi SSB di Cikajang, tentunya dengan tempat latihan yang masih sama yaitu lapangan Cikajang. SSB Mandala Cikajang, Bina Taruna, Samba, dan SSB Family merupakan SSB pecahan dari Tunas 2000.

Yandi Sofyan ketika sedang melakukan tes medis bersama klub Australia, Brisbane Roar.

Sebetulnya selain Yandi Sofyan dan Zaenal Arief, ada pula nama Johan Juansyah dan Rudi Geovani yang merupakan produk dari lapangan Cikajang ini. Dan jauh sebelum mereka pun, telah banyak pemain-pemain top Indonesia yang lahir dari sana, seperti Adeng Hudaya sang legenda Persib, Oded Sutarna, Uut Kuswendi, Nyanyang, Giman Nurjaman, Dede Irawan, Nova Zaenal, hingga Yaris Riyadi.

Baca Juga :   Wabup Garut Berikan 'Bekal' Kepada Atlet eSport Jelang Piala Gubernur Dan Seleksi PON Papua

Nama-nama beken lainnya yang sempat mengecap bermain di lapangan Ibrahim Adjie atau lapangan Cikajang ini di antaranya adalah Suwita Pata, Tantan, Jajang Sukmara hingga Ferdinand Sinaga.

Satu hal yang menarik dari sekian banyak pemain-pemain top yang dilahirkan dari Cikajang adalah adanya pertalian saudara antara satu pemain dengan yang lainnya. Misalnya, Adeng Hudaya, sang legenda Persib, yang juga mulai bermain bola di lapangan Cikajang merupakan adik dari Ade heri yang juga legenda Persib. Ada juga Uut Kuswendi, Oded Sutarna, dan Jajang Kurniawan yang merupakan kakak beradik yang sukses menjadi pesepak bola di luar Garut ialah keponakan dari Nyanyang mantan pemain Persib Bandung. Kakak beradik Dede Irawan, Giman Nurjaman dan Nova Zaenal masih satu kakek dengan Uut Kuswendi.

Pada era sekarang ada kakak beradik Zaenal Arief dan Yandi Sofyan yang ternyata masih keponakan dari Oded Sutarna. Serta Rudi Geovani yang masih saudara kandung dengan Johan Juansyah. Sepertinya darah sepak bola terus diturunkan hingga generasi sekarang.

Eza dan Ezi yang merupakan adik kembar dari Zaenal Arief pun turut serta meniti karir dalam sepak bola, yang sekarang masih berlatih di SSB Bina Taruna. Selain mereka muncul pula nama lain yaitu Fanji yang merupakan keponakan dari Giman Nurjaman.

Cikajang memang terkenal sebagai penghasil pesepak bola muda berbakat. Tahun lalu saja tercatat sekitar 14 pemain asal Cikajang yang membela tim Pekan Olahraga Daerah (Porda) Garut. Pada Liga Nusantara pun Cikajang turut menyumbang delapan pemainnya untuk membela Persigar Garut hingga nyaris lolos ke Divisi Utama.

Pembinaan dengan kecintaan dan ketulusan menjadi kunci utama dalam pembinaan pemain-pemin muda Cikajang ini. Kesuksesan para pendahulunya dijadikan motivasi tersendiri bagi pemain-pemain muda di sana.

Namun sayang, di balik banyaknya pemain-pemain berbakat yang berhasil menjadi pemain top tanah air yang ditelurkan lapangan Cikajang, ini tidak berbanding lurus dengan prestasi Persigar yang hingga saat ini masih berkecimpung di Liga Nusantara.

 

Artikel ini sebelumnya tayang pada 2015 di :

Ibrahim Adjie: Lapangan Tak Berumput Pencetak Bintang

Bagikan :

Next Post

Bupati Meminta Warga Garut di Perantauan Untuk Pulang

Sel Jun 1 , 2021
kabargarut.com – Tukang Pangkas Rambut Ngeluh, Pemkab Garut Sipakan Vaksinasi Covid-19 untuk Perantau Banyak warga Kabupaten Garut yang bekerja di luar daerah tidak bisa mendapatkan vaksinasi Covid-19 di tempat mereka bekerja. Hal ini diungkapkan Ketua Asosiasi Seniman Rambut Garut Irawan Hidayat. Ia menyatakan saat ini pekerja jasa pangkas rambut yang […]
error: Content is protected !!