Angka Stunting (gagal tumbuh) Garut Jadi Salah Satu Daerah Tertinggi di Indonesia

Kabar Garut – Angka stunting (gagal tumbuh) di Kabupaten Garut saat ini masih terbilang tinggi. Saking tingginya, saat ini angka stunting di Kabupaten Garut merupakan yang tertinggi di Jawa Barat dan menempati urutan ketiga paling tinggi di Indonesia.

Hal itu diungkapkan Direktur Dakwah, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat Dompet Dhuafa, Ahmad Sonhaji dalam sambutannya pada acara Launching Mozi-Masagi (motor gizi-makanan sarat gizi) di Joglo Resto, Jalan Proklamasi, Tarogong Kidul, Rabu 10 Februari 2021.

Dikatakan Ahmad, hal itulah yang menjadikan alasan pihak Dompet Dhuafa melaksanakan Launching Mozi-Masagi di Kabupaten Garut. Ia berharap melalui program ini, angka kasus stunting di Kabupaten Garut bisa ditekan serendah mungkin.

“Ketika kita melakukan satu intervensi program, kita melihat dari data statistik wilayah yang kita dapatkan data sekunder. Kemudian primernya, kita turun ke lapangan melakukan mapping dan asesmen terhadap informasi yang kita dapatkan terkait angka stunting di Garut yang menempati urutan pertama tertinggi di Jabar dan urutan ketiga tertinggi di Indonesia,” ujar Ahmad.

Kondisi seperti inilah menurut Ahmad yang membuat tim kesehatan di Dompet Dhuafa tertarik untuk turun ke Garut untuk melihat langsung intervensi apa yang bisa dilakukan dalam penanganan stunting di Garut ini.

Bahkan sejak tahun 2016, Dompet Dhuafa telah turun ke Garut untuk memberikan pendampingan kepada kader melalui Posyandu dan Puskesmas, serta berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Garut dari kondisi lapangan yang didapatkan.

Disampaikannya, inovasi pembuatan Mozi-Masagi sendiri timbul karena melihat masih banyaknya daerah pelosok di Garut yang sulit dijangkau kendaraan roda empat.
Sedangkan jika ditempuh dengan jalan kaki, tentu akan cukup merepotkan padahal relawan atau kader harus mengantarkan makanan untuk asupan gizi untuk para balita sebagai upaya menekan tingginya angka stunting.

Ahmad menyebutkan, keberadaan Mozi-Masagi ini akan sangat membantu program pemberian makanan bergizi yang merupakan salah satu program Dompet Dhuafa untuk menekan angka stunting di Garut. Ia berharap program ini juga bisa dilaksanakan di daerah lainnya sehingga Garut ini dijadikan pilot project program Mozi-Masagi.

Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi pada Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, Sri Prihatin, membenarkan jika angka stunting di Garut saat ini masih terbilang tinggi. Bahkan hingga saat Garut masih divonis sebagai daerah dengan angka stunting tertinggi di Jawa Barat bahkan juga di Indonesia.

“Garut itu dinyatakan sebagai daerah dengan angka stunting nomor satu tertinggi di Jawa Barat itu sebenarnya hasil penilaian tahun 2017 sampai 2018. Namun sebenarnya untuk saat ini angka stunting di Garut sudah banyak mengalami penurunan seiring berbagai upaya yang telah kita lakukan,” kata Sri.

Baca Juga :   Kepada 30 Orang Warga Garut, BPN Bagikan 5000 Sertipikat Tanah

Diterangkannya, angka stunting di Garut pada tahun 2017 mencapai 43,3 persen dan 2018 telah turun menjadi 42,3 persen. Sedangkan pada tahun 2019, angkanya kembali turun signifikan menjadi hanya 27,3 persen sehingga ia menilai kondisi stunting di Garut saat ini tidak separah 2017 lalu.

Sri pun mengaku tak habis pikir kenapa hingga saat ini Garut masih divonis sebagai daerah dengan angka stunting paling tinggi di Jawa Barat, bahkan di Indonesia. Padahal setiap bulannya pihaknya telah rutin melaksanakan pemantauan baik melalui penimbangan berat badan maupun pengukuran tinggi badan balita yang hasilnya selalu dilaporkan langsung ke Kementerian Kesehatan RI.

Masih melekatnya vonis Garut sebagai daerah dengan angka stunting paling tinggi di Jawa Barat dan di Indonesia, diakui Sri sebagai PR (pekerjaan rumah) bagi semua kalangan di Garut. Upaya pengentasan angka stunting di Garut menurutnya tak bisa diatasi atau dilakukan sendiri oleh pemerintah atau Dinas Kesehatan tapi juga memerlukan kepedulian berbagai pihak.

Diungkapkannya, penanganan stunting yang harus kita laksanakan itu 70 persen ada di zona sensitif. Ini artinya, penanganan serta dukungan harus melibatkan lintas sektor. Di Dinas kesehatan sendiri, penanganan stunting ini hanya da 30 persen yang mana difokuskan di seribu hari pertama kehidupan bayi.

“Jadi yang kita upayakan mulai dari ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, bayi baru lahir sampai dengan Usia 24 bulan. Di bawah 24 bulan itu betul-betul kita upayakan seoptimal mungkin untuk mencegah terjadinya stunting,” ucap Sri.

Lebih jauh Sri menyampaikan apresiasi terhadap kepedulian Dompet Dhuafa yang ingin membantu menekan tingginya angka stunting di Garut. Ia juga menyambut baik program Mozi-Masagi yang diluncurkan di Kabupaten Garut dan diharapkan ini bisa mempermudah upaya meningkatkan kesehatan ibu dan bayi melalui asupan gizi yang lebih baik sehingga bisa menekan angka stunting.

“Program ini nantinya akan dikolaborasikan dengan Satgas stunting tingkat kabupaten.

Program ini nantinya juga akan kita modif dengan program Dinkes yang sudah berjalan. Diharapkan program ini bisa dikembangkan di seluruh kecamatan se Kabupaten Garut karena ini program yang bagus,” katanya.

Artikel ini dimuat juga pada www.pikiran-rakyat.com dengan judul “Garut Jadi Salah Satu Daerah dengan Angka Stunting Tertinggi di Indonesia”

Editor : Kabar Garut

Bagikan :

Next Post

Warga Garut Ini Tukar Rumah-Tanah dengan Tanaman Hias

Kam Feb 11 , 2021
Kabar Garut – Pecinta tanaman asal Garut, Hidmat Syamsudin, bikin geger lagi. Sebelumnya ia menukar rumahnya seharga Rp 500 juta demi mendapatkan tanaman hias, kini pria tersebut barter sebidang tanah senilai Rp 200 juta dengan tanaman. Hidmat membarter satu kavling tanah miliknya yang terletak di salah satu perumahan elite di […]
error: Content is protected !!